https://i2.wp.com/www.commercialpressuresonland.org/sites/default/files/images/transmigrasi.jpg

Foto: “The Transmigrasi. Research Paper

 

Hal : Surat Terbuka

Assalamuallaikum……..
Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT) Arang-arang Kecamatan Kumpeh Ulu Kabupaten Muaro Jambi adalah pemukiman transmigrasi ysng dihuni oleh transmigran yang diberangkatkan dari Kabupaten Lumajang, Banyuwangi, Lamongan, dan Pacitan berdasarkan Surat Bupati Muaro Jambi Nomer 4754/252/Nakertrans Kepada Dirjen Mobduk Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi tanggal Sengeti, 28 Juni 2004 dan Keputusan Bupati Muaro Jambi Nomor 531 Tahun 2007 Tentang Penempatan 250 Kepala Keluarga Transmigran pada UPT Arang-Arang Kec. Kumpeh Ulu Kabupaten Muaro Jambi. Sedangkan transmigran lokal adalah penduduk asal Kabupaten Muaro Jambi berdasarkan Keputusan Bupati Muaro Jambi Nomor 536 Tahun 2008 Tentang Penempatan 250 Kepala Keluarga Transmigran pada UPT Arang-Arang Kec. Kumpeh Ulu Kabupaten Muaro Jambi.
Mendasarkan pada perundangan tentang ketransmigrasian Republik Indonesia mengenai hak dan kewajiban anggota sebagai transmigran Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT) Arang-Arang, Kecamatan Kumpeh Ulu, Kabupaten Muaro Jambi, Propinsi Jambi sesuai dengan :
1. UURI Nomor 29 Tahun 2009 tentang Perubahan atas UURI Nomor 15 Tahun 1997 tentang Ketransmigrasian.
2. PPRI Nomor 2 Tahun 1999 tentang penyelenggaraan transmigrasi.
3. Keputusan Menteri Transmigrasi Nomor Kep. 124/MEN/1990 Tentang Pola Pemukiman dan Pengembangan Usaha Transmigrasi
4. Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor Kep. 208/MEN/2004 Tentang Syarat dan Tata Cara Penetapan Sebagai Transmigran
5. Keputusan Bersama Bupati Muaro Jambi dengan Bupati Lamongan Nomer 03 Tahun 2003 dan Nomer 39 Tahun 2003 tentang Kerjasama Pembangunan Bidang Transmigrasi. Berikut Perjanjian Kerjasama dengan Kabupaten Pacitan, Lumajang dan Banyuwangi.
6. Perjanjian Kerjasama tentang Penyelenggaraan Pembangunan Bidang Transmigrasi antara Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi dengan Pemerintah Kabupaten Lamongan Nomer : 475/597.A/TRANS/2003 dan Nomer : 181.1/249.2/413.013/2003. Berikut Perjanjian Kerjasama dengan Kabupaten Pacitan, Lumajang dan Banyuwangi.
Transmigran UPT Arang-arang dalam hal ini belum mendapatkan sebagian haknya sebagai transmigran yaitu kebun plasma.
Kami sudah menempuh berbagai upaya yang sangat serius dalam membela hak-hak kami sebagai transmigran mulai dari mengkomunikasikan permasalahan di daerah asal (dalam hal ini kami mulai dari Pemerintah Kabupaten Pacitan) melalui Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Pacitan dengan cara membuat surat aduan kepada Bupati sehingga keluarlah Surat Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomer : 475.1/702/408.40/2012 perihal Tindak Lanjut Aduan Transmigran Asal Pacitan kepada Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi sehingga keluarlah Surat Direktorat Jendral Pembinaan Pembangunan Kawasan Transmigrasi Nomer : B.492/P2Ktrans/V/2013 perihal Surat Aduan Transmigran Asal Kabupaten Pacitan di Kabupaten Muaro Jambi.
Surat dari Dinas Sosnakertran Kabupaten Pacitan kepada Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi kami kawal langsung dengan terjadinya audiensi bersama Dirjen P4Trans Kemenakertrans. Kami selaku warga Transmigran juga menempuh upaya lain di daerah tujuan transmigrasi yaitu di Kabupaten Muaro Jambi dengan melakukan konsolidasi dengan Legislatif yaitu DPRD Kabupaten Muaro Jambi untuk menyampaikan permohonan mediasi dengan berbagai instansi yang berkepentingan. Bentuk lain perjuangan kami adalah melakukan diskusi dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) sekaligus minta pendampingan hukum karena Lembaga tersebut juga sebagai Lembaga Bantuan Hukum (LBH). Kami juga minta bantuan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KOMNASHAM) karena kami merasa hak-hak kami sebagai transmigran terabaikan.
Konsolidasi dengan pihak perusahaan yang menjadi bapak angkat yaitu PT. Muaro Kahuripan Indonesia (MAKIN) juga sudah berulang kali tetapi pihak MAKIN berlindung di balik perjanjian yang tidak berpihak pada transmigran. Aduan juga sudah disampaikan kepada Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi dengan berbagai argumentasi, tetapi masihlah sulit bagi kami untuk memperoleh hak plasma.
Kami selaku warga Transmigran mohon sekiranya di perkenankan untuk menyampaikan permohonan seperti tercantum di bawah ini untuk :
1. Mengkaji Perjanjian Kerjasama Pembangunan Perkebunan antara PT. Muaro Kahuripan Indonesia dengan Koperasi Berkah Sejahtera Nomor : SPK/029A/MKI/II07 yang tidak sesuai dengan amanat Undang-undang Transmigrasi, sehingga kami rasa transmigran belum memperoleh hak hukum yang jelas.
2. Mengawal Perjanjian Kerjasama Pembangunan Perkebunan antara PT. Muaro Kahuripan Indonesia dengan Koperasi Berkah Sejahtera baru yang sesuai dengan amanat Undang-undang Transmigrasi.
Kami mengajukan permohonan dengan berbagai pertimbangan logis diantaranya :
1. Tujuan transmigrasi sudah jauh dari perundangan yang ada
2. Tujuan transmigrasi sudah jauh dari cita-cita transmigran
3. Hak transmigran sejak 28 Juni 2004 hingga sekarang masih belum terpenuhi
4. Tidak ada kejelasan pernyataan PT. Muaro Kahuripan Indonesia tentang konversi lahan.
Demikian surat terbuka ini kami sampaikan, kepada yang berkepentingan memegang kebijakan agar memperhatikan hak-hak masyarakat transmigran sesuai dengan amanat undang-undang transmigrasi. Mohon sekiranya ada langkah-langkah persuasif dalam menangani permasalahan ini. Atas perhatian dan kesempatan kami ucapkan terimakasih.

Wassalamuallaikum…..

 

Kontak : Sunardi Wicaksono

Advertisements

Mungkin sudah ratusan bahkan tak terhitung kalinya saya dan mungkin juga warga Pacitan yang lain melewati kompleks pemakaman Kucur di samping STM Bina Karya Pacitan. Namun sebagian besar orang seperti halnya saya mungkin telah melewatkan satu monumen penting yang mengandung banyak rahasia yang belum terungkap. Ada satu makam yang cukup menonjol diantara makam-makam yang lain. Makam ini, atau lebih tepatnya disebut Mausoleum, berdiri diatas pondasi batu bata dan diatasnya berdiri bangunan (cungkup, dalam beberapa penelitian disebutnya kuil/temple) megah dengan arsitektur bergaya Eropa. Cungkup tersebut ditopang oleh enam pilar yang cukup besar. Pada gerbang menuju cungkup tersebut kita sudah disambut tulisan “MEMENTO MORI” yang artinya “Ingatlah Akan Kematianmu” atau Ingatlah bahwa suatu saat kita akan mati. Selepas dari gerbang, ada tangga melengkung yang bisa digunakan untuk naik menuju cungkup baik dari sisi sebelah kiri maupun sebelah kanan. Di bawah tangga tersebut terdapat ceruk kecil semacam ruangan bawah tanah dan bisa ditemukan tulisan berbahasa latin:

AD PERPETUAM REI MEMORIAM
T*.B.F.F.Q.8

Artinya kurang lebih Sebuah Kenang-kenangan Abadi. Sedangkan tulisan enam huruf di bawahnya diperkirakan adalah inisial atau kode tertentu yang belum diketahui maksudnya sampai dengan saat ini. Tanda asterik (*) menandakan hurufnya tidak dapat dibaca karena rusak. Spekulasi yang berkembang adalah tulisan tersebut kode inisial orang yang membangun makam ini. Versi penelitian Remmelink menulisnya sedikit berbeda: “G.B.F.F.Q.S.” .

20130206-210116.jpg
Photo:DocHumas Pemkab Pacitan, Pebruari 2013

Pada bagian depan dari atap cungkup terdapat tulisan R.I.P (tentu saja maksudnya Rest In Peace atau aslinya dalam bahasa latin Requiescat In Pace, Beristirahat Dengan Tenang) sedangkan atap belakang yang menghadap ke utara tertulis ” VERLATEN MAAR NIET VERGETEN ” (yang artinya adalah Yang Ditinggalkan Tetapi Tidak terlupakan). Pada langit-langit cungkup terdapat bekas lukisan berwarna biru yg diperkirakan lukisan orang yang dimakamkan di situ. Menurut Loir & C. Guillot lukisan tersebut dihapus pada saat masa pendudukan Jepang. Tidak begitu jelas alasan dibalik penghapusan gambar tersebut.

Verlateen

Foto: Henk van Tilborg

Pada bagian bawah pilar (di Jawa disebut Umpak) terdapat ornamen khas Yunani, Lyra. Makam tersebut ditutup dengan batu nisan panjang terbuat dari batu pualam dalam ukuran yang cukup besar. Diatas batu panjang tersebut inilah awal mula makam ini menjadi bahan diskusi yang cukup serius justru dari kalangan ilmuwan di luar negeri. Paling tidak ada dua penelitian mengenai makam ini. Yang pertama dilakukan oleh Loir & Claude Guillot tahun (?) dan disambung oleh penelitian yang dilakukan oleh Willem G.J. REMMELINK pada tahun (?). Tulisan pada batu nisan (epitaph) tersebut sempat menjadi misteri yang tidak dapat diselesaikan oleh Loir & Guillot serta sempat membuat Remmelink pusing dan butuh waktu lama untuk dapat memecahkan sandinya. Tulisan pada nisan tersebut tidak dapat dibaca oleh awam karena menggunakan metode sandi Vigenere Klasik yang diperkirakan digunakan pertama kali oleh Julius Caesar dan cukup populer pada awal abad ke 19. Sekilas tulisan di atas nisan ini lebih menyerupai tulisan berantakan tanpa makna atau huruf-huruf yang bertebaran saja.

20130206-221210.jpg
Photo:DocHumas Pemkab Pacitan, Pebruari 2013

Adalah Willem G.J. Remmelink yang kemudian membuat penelitian yang memakan waktu cukup lama untuk dapat memecahkan sandi rahasia yang digunakan dalam tulisan di makam tersebut. Remmelink sangat terbantu oleh Jan Willem Stumpel yang berhasil membuat program komputer yang dapat memecahkan sandi Vigenere. Kemudian untuk pertama kalinya pada 20 Oktober 1990 sandi rahasia dalam nisan tersebut dapat dipecahkan. Berikut ini salinannya dalam bahasa Inggris dengan terjemahan bebas (Maksudnya terjemahan bebas adalah, kalau salah menterjemahkannya ya minta maaf 🙂 )

“To my deeply beloved wife Djamijah.
Born in eighteen hundred seventy three passed away on December twelve nineteen hundred one.
O my Djamijah my rose of Sharon how can I express thee my love and respect? The whole world is thereto too small for me. Shall I ever see thee again? If there is a life hereafter thou must now be in Paradise. Thou were so good and were so much thrown with dirt. Therefore, I shall take the difficult road over Golgotha and find thee back. Till we meet again! “

Terjemahan bebas:

“ Untuk istri yang sangat kucintai Djamijah.
Terlahir 1873 meninggal 12 Desember 1901.
O Djamijahku, bunga mawarku (rose of Sharon). Bagaimana saya dapat mengungkapkan rasa cinta dan hormatku kepadamu? Seluruh dunia ini menjadi sempit bagiku. Apakah aku akan bertemu denganmu lagi? Seandainya ada kehidupan di alam baka, tentu kamu sekarang ini ada di surga. Kamu sungguh sangat baik dan begitu saja terlempari kotoran . Karena itu, saya akan menempuh jalan sulit melewati Golgotha dan menemuimu kembali.
Sampai kita ketemu lagi! “

Catatan terjemahan: Rose of Sharon itu ungkapan untuk bunga yang tak ternilai harganya. Ungkapan ini juga sering digunakan dalam lirik dan sajak. Dalam penggunaan modern, Rose of Sharon merujuk pada bunga dari jenis Hypericum calycinum (biasa tumbuh di Eropa dan Asia Selatan) dan Hibiscus syriacus (biasa tumbuh di Asia). Si penulis di makam menggunakan istilah Rose of Sharon ini untuk menunjukkan betapa indah dan berharganya Djamijah baginya.

Dari prasasti di Nisan tersebut terungkap bahwa yang dikuburkan di makam tersebut adalah seorang perempuan bernama Djamijah yang meninggal pada usia 28 tahun. Tidak banyak informasi lain yang tergali dari tulisan di nisan tersebut, malah segudang pertanyaan yang kemudian muncul: Siapa suami Djamijah yang terlihat begitu mencintainya itu? Kenapa dalam nisan tersebut menyebutkan Djamijah “thrown with dirt”, apakah ada peristiwa tragis yang menimpa Djamijah sebelumnya? Kenapa tulisan diatas nisan tersebut perlu disandikan / dirahasiakan? Kalau suaminya Djamijah benar-benar mencintai Djamijah kenapa tidak ada kuburannya di dekat makam Djamijah seperti kebiasaan orang-orang yang saling mencintai? Apakah Djamijah ini istri kedua / Nyai seperti kebiasaan kebanyakan pejabat kolonial Belanda saat itu? Apakah huruf-huruf yg ditatahkan pada bagian lain dari makam ini yang berbunyi “T*.B.F.F.Q.8” merupakan kode inisial suami atau orang yang membangun makam ini? (Remmelink dalam laporan penelitiannya menuliskan “G.B.F.F.Q.S.” Dan dengan menggunakan metode pemecahan sandi yang sama mungkin menjadi H.J.M.I.R.A. ).

Penelusuran Hendri Chambert – Loir yang saat dia meneliti belum bisa memecahkan kode sandi tulisan di makam hanya memberikan sedikit petunjuk. Menurut cerita penduduk setempat, yang dimakamkan di makam tersebut adalah seorang perempuan Jawa yang cukup terkenal, istri dari seorang Pengawas Perkebunan jaman kolonial Belanda. Dari petunjuk penduduk sekitar, Chambert-Loir menemui ibu Sukiah, keponakan dari pemilik makam misterius itu yang tinggal di desa Slahung, kearah Ponorogo. Bapaknya Sukiah adalah adik kandung dari Djamijah yang diserahi tugas merawat makam tersebut. Informasi dari ibu Sukiah, suami Djamijah bernama Tuan Gip. diperkirakan Djamijah berumur 20-30 tahun lebih muda dari suaminya. Djamijah diperkirakan meninggal pada umur 35 tahun. Bapaknya Sukiyah adalah pegawai dari Tuan Gip pada masa itu. Setelah Djamijah meninggal pada tahun 1901, tuan Gip kemudian pindah ke Maospati dan menghabiskan masa pensiunnya di sana serta meninggal di sana dua tahun kemudian (1903). Tuan Gip sendiri menurut cerita adalah Pengawas / Tuan Tanah Perkebunan Kelapa. Penduduk sekitar juga sempat mengatakan bahwa sekali waktu Tuan Gip ini berjalan kaki dari Maospati ke Pacitan untuk mengunjungi makam Djamijah. Akan tetapi keberadaan makam Tuan Gip sendiri tidak ada yang mengetahuinya. Ada yang memperkirakan diantara Maospati dan Pacitan. Profesi Tuan Gip, masih menurut cerita penduduk setempat, adalah pengawas/tuan tanah perkebunan kelapa. Ia mempunyai beberapa hektar tanah.

Lantas siapakah sebenarnya Tuan Gip sang suami Djamijah?

Willem G.J. REMMELINK yang memecahkan kode sandi rahasia tulisan di batu nisan sempat melakukan penelusuran ke berbagai pihak. Menurut informasi dari penduduk Pacitan yang keturunan china, yang membangun makam tersebut adalah Mr. Taalman Kip. Namun karena pengucapan logat bahasa Jawa kemudian menjadi Tuan Gip. Remmelink juga melakukan penelusuran dalam Almanak Gotha Keluarga Bangsawan Belanda (Almanac de Gotha of Dutch patrician families). Menurut catatan dokumen ini, ada salah seorang keluarga Taalman Kip ini yang pergi ke Nederlands Indie (Indonesia) dan menjadi pegawai pemerintah. Dia adalah Marcus Jacobus van Erp Taalman-Kip yang lahir di Woerden pada 16 Maret 1830. Di Jawa dia menikah di Madiun dengan perempuan jawa bernama Noertya, dimana dia memiliki dua orang anak laki-laki dan satu perempuan.

20130209-094903.jpg
Foto: Willem Frederick van Erp Taalman Kip,salah satu keturunan Marcus Jacobus van Erp Taalman Kip

Akan tetapi informasi inipun masih belum sepenuhnya terverifikasi, hanya berdasarkan penuturan dari cerita informan serta penelusuran dokumen yang bisa saja salah. Seandainya benar yang membangun makam tersebut adalah Marcus Jacobus van Erp Taalman Kip, kenapa inisial nama yang dituliskan di makam tersebut tidak sama. Pada makam tersebut tertuliskan “G.B.F.F.Q.S.” yang bisa diterjemahkan menjadi “H.J.M.I.R.A” kenapa bukan M.J.V.E.T.K ? Apakah itu bukan nama inisial suami Djamijah?

Masih banyak misteri yang belum tersingkap dari makam ini. Cinta memang penuh dengan misteri. Pun ketika itu dalam bentuk monumen sekalipun.

$$$

Terima kasih untuk:
– Ridwan Hutagalung, Sejarawan yang “menemukan kembali” makam ini 🙂
– Lorraine Riva, Sejarawati dan Ahli Bahasa Asing 🙂
– Alexxx, Sejarawan dan Peneliti Dokumen Internet 🙂

Rujukan:
– Willem GJ Remmelink. “The Key to the Mysterious Epitaph of Pacitan”. In: Archipel. Volume 49, 1995. pp. 17-24.
– HENRI CHAMBERT-LOIR & Claude GUILLOT. “Une mystérieuse épitaphe à Pacitan”. In: Archipel. Volume 47, 1994. pp. 35-38.

Tulisan menarik tentang sisi tak terungkap aksi polisionil Belanda pada periode 1947 – 1949 yang kita kenal sebagai Agresi Militer Belanda I dan II. Sejarah aksi polisionil Belanda ini tidak pernah diajarkan di sekolah-sekolah di Belanda. Tiga Institut di Belanda yang fokus pada sejarah telah meminta pemerintah Belanda untuk melakukan investigasi menyusul temuan foto-foto langka ini.
Sejarah tidak pernah akan dilupakan anak cucu. Demikian pula yang kita lakukan hari ini ini akan menjadi sejarah bagi masa mendatang, lakukanlah dengan benar agar tidak memalukan anak cucu kelak.

KabarNet

Jakarta – KabarNet: Pada awal bulan Juli ini di negeri Belanda sedang hangat hangatnya membicarakan sejarah Aksi Polisionil Belanda di Indonesia antara 1947-1949. Semua berawal dari sebuah album foto yang ditemukan secara tidak sengaja di sebuah tempat sampah di Kota Enschede dan dimuat pertama kali oleh koran VOLKSKRANT, salah satu koran terbesar di Belanda.

View original post 2,420 more words

Siapa yang tak gemas menyaksikan tayangan wawancara di salah satu stasiun televisi milik keluarga kaya yang juga adalah calon presiden dari sebuah partai yang pernah dihujat karena keterlibatannya dengan rezim otoriter orde baru selama lebih dari 32 tahun ini? Itulah wawancara dengan Hari Suwandi, salah satu korban lumpur Lapindo yang sebelumnya nekat berjalan kaki dari Porong menuju jakarta mengaku berjuang untuk korban lumpur Lapindo, tetapi sesampai di Jakarta malah mengkhianati perjuangan para korban lumpur lapindo untuk kemudian menyeberang ke pihak Lapindo.

Ada banyak pihak yang menyatakan bahwa sedari awal sudah ragu-ragu dengan niat aksi jalan kaki Surabaya-Jakarta. Tetapi tidak sedikit pula yang menduga ada intervensi dari pihak Lapindo dengan menawarkan berbagai iming-iming sehingga dia mau berbelok langkah.

Di bawah ini adalah tulisan Paring Waluyo, salah satu pendamping korban lumpur Lapindo yang sebelumnya juga mendampingi Hari Suwandi.

—-

Hari Suwandi Sebelum Berbelok Arah

Foto: Tribun News

Awal Juni 2012, Hari Suwandi beberapa kali menghubungi saya via telepon. Ia menyatakan akan melakukan aksi jalan kaki Porong-Jakarta untuk menemui Presiden SBY. Tujuannya, untuk menggalang dukungan publik, dan menyampaikan segala persoalan penanganan korban lumpur oleh PT Minarak Lapindo Jaya {PT MLJ}. Telepon dia pertama dan kedua, kurang begitu aku tanggapi, sebab aku paham betul bahwa Hari Suwandi sebelumnya telah mengkhianati perjuangan korban lapindo.

Pada tahun 2008, saat ia masih menjadi salah satu koordinator Geppres (Gerakan Korban lapindo Pendukung Peraturan Presiden No 14 tahun 2007), mengkhianati cita cita perjuangan. Geppres saat itu beranggotakan 1554 anggota korban lumpur lapindo dari empat desa, yakni Desa Kedung Bendo, Renokengono, Jatirejo, dan Siring. Tuntutan Geppres adalah berjalannya Perpres No 14 tahun 2007, bahwa 80 persen sisa aset korban lapindo dibayar tunai oleh PT MLJ.

Hampir setahun, aku bersama para koordinator Geppres (Hari Suwandi, Suwito, Rois, dan Mahmudatul Fatchiya) kesana kemari untuk memperjuangkan tuntutan warga geppres itu. Mulai aksi menutup Jalan Raya Porong, mengadu ke Komnas HAM, aksi massa di Jakarta (Kantor Presiden). Namun usaha usaha itu belum membuahkan hasil. Disisi lain, PT MLJ terus bergerilya melaksanakan skema pembayaran sisa aset 80 persen milik korban lapindo dengan cara diangsur.

Februari 2009, saat Nirwan Bakrie (pemilik Lapindo Brantas) dan Imam Agustino (General Manager Lapindo Brantas, Inc) yang difasilitasi oleh pemerintah, menyatakan sanggup membayar 80 persen dengan cara diangsur. Tanah diangsur Rp. 10juta/ bulan dan bangunan Rp. 15/bulan. Dan dalam perjalannya, mulai 2010-2012 program pembayaran cicilan ini juga tidak jelas. Jelas keputusan ini bertentangan dengan cita cita Geppres. Geppres sejak awal dibentuk berjuang agar 80 persen dibayar tunai ke masing masing pemilik aset (korban lapindo).

Keputusan Lapindo Brantas yang didukung oleh Menteri Pekerjaan Umum (Ketua Badan Pengarah Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo/ BPLS) dan kapolri itu jelas memungkiri Perpres No 14 tahun 2007. Selain pemerintah tidak konsisten dalam memberlakukan aturan yang dibuatnya sendiri, dengan fasilitasi Lapindo untuk melanggar perpres, situasi ini jelas tidak menguntungkan perjuangan Geppres.

Pasca keputusan membayar diangsur itu, jajaran PT MLJ (perusahaan yang dibentuk Lapindo Brantas) untuk melaksanakan kewajiban pembayaran ke korban lapindo) melakukan gerilya. Mereka menebar tenaga untuk melobi pimpinan pimpinan kelompok korban lapindo, termasuk Geppres untuk mengarahkan warganya menyetujui keputusan itu.

Lobi itu terbukti berjalan cukup sukses, beberapa koordinator Geppres seperti Hari Suwandi, Suwito dan Mahmudatul Fatchiya mempengaruhi anggotanya untuk setuju kebijakan Lapindo Brantas. Inilah momen awal, dimana Hari Suwandi mulai tidak dipercaya oleh warga korban lapindo. Bahkan Hari Suwandi sempat diberikan ruangan khusus di kantor PT MLJ untuk mengurus berkas berkas warga yang berhasil diarahkannya untuk masuk program cicilan. Namun massa keemasan Hari Suwandi dengan petinggi PT MLJ tak berjalan lama, seiring usainya massa pengurusan berkas berkas milik korban. Apalagi, besar kemungkinan PT MLJ mengetahui kalau Hari Suwandi telah tak dipercayai warga korban lapindo. Habis manis, sepah dibuang, kira kira begitulah situasi Hari Suwandi pasca bermanis manis dengan PT MLJ itu.

Langkah Hari Suwandi itulah yang meyebabkan ia tidak dipercaya lagi oleh para korban lapindo. Ia dikucilkan dari pergaulan dengan korban lapindo, terutama warga Geppres yang masih berjuang. Sehingga ketika ia menghubungiku akan berjuang kembali, jalan kaki Porong Jakarta untuk korban lapindo sungguh tidak aku percayai. Berkali kali ia telepon dan meyakinkan aku, bahwa ia telah bertaubat.

Untuk menunjukkan kesungguhannya itu, ia meminta waktu untuk bertemu denganku. Awal Juni 2012 aku sama ia ketemu. Bahkan saat pertama kali ketemu denganku, ia telah membawa surat keterangan dari Kepala Desa Kedung Bendo. Surat itu menyatakan bahwa yang bersangkutan sebenar-benarnya warga Desa kedung Bendo yang akan jalan kaki ke Jakarta. Hari Suwandi juga menyatakan akan berjalan kaki Hari Rabu, 6 Juni 2012. “Sampeyan dukung aku atau tidak mas, aku tetap berjalan kaki ke Jakarta” ucap Hari Suwandi.

“Apakah sampeyan sudah mempersiapkan bekal dan segala sesuatunya cak, termasuk kontak rekan rekan wartawan? Jawabku. Ia menjawab kalau belum mempersiapkan segala sesuatunya. Dilihat dari gestur tubuhnya, tampak ia tidak sedang bermain main. Bahkan ia sungguh sungguh untuk melakukan perjuangan itu, apalagi ia juga ingin menebus dosa yang telah diperbuatnya itu. Bahkan saat itu ia sama sekali tidak memiliki uang. Satu satunya bekal awal yang dimilikinya hanya uang Rp. 70.000 sumbangan dari Kepala Desa Kedung Bendo.

Kesungguhannya itu membuatku percaya bahwa HS benar benar ingin bertobat. Aku memintanya untuk tidak berangkat tanggal 6 Juni 2012. Aku menyarakankan ia berangkat ditunda seminggu kedepannya, agar aku memiliki kesempatan untuk menggalang solidaritas untuk HS, terutama dikota kota yang bakal dia gunakan untuk beristirahat sejenak. Untuk mendukung perjalanannya ke Jakarta, aku menyarankan HS untuk mencari seorang teman, yang nantinya membawa perbekalannya.

Sehari berikutnya HS menemuiku dan membawa Harto Wiyono (HW). HS menyatakan Hartolah yang akan menjadi temannya selama diperjalanan. Aku mengenal HW juga sudah lama. Ia termasuk sedikit korban lapindo yang konsisten dalam berjuang. Bahkan sampai kini ia tetap menjadi anggota Geppres dan menutut pembayaran 80 persen dengan tunai. Ia menolak pembayaran 80 persen dengan cara diangsur. Cak Harto saat itu juga setuju menemani HS, saat aku tanyakan ke dia.

Setelah segala sesuatunya siap, kami bertiga sepakat untuk memulai keberangkatan tanggal 14 Juni 2012. Tapi HS dan HW disarankan oleh ahli spiritual lokal untuk memulai niat baik itu dengan siraman dulu diatas tanggul. Aku melihat siraman itu bisa sebagai “media pemberitahuan” kepada publik melalui rekan rekan media. Tanggal 10 Juli 2012 HS menjalani siraman diatas tanggul ditemani ratusan korban lapindo. Liputan media juga sangat banyak.

Sejak saat siraman itu, media di Sidoarjo terus memburu HS dan HW sebagai sumber berita. Apalagi pada tanggal 14 Juli 2012 saat akan pemberangkatan jalan kaki, HS dan HW tiada henti menjadi sumber peliputan media. Tanggal 14 Juli 2012 pukul 11.00 WIB, ratusan korban lapindo dan berbagai tokoh masyarakat seperti para pendeta, anggota DPR, kiai, dan beberapa tetangga HS di tempatnya yang baru dan orang tua HS ikut dalam pelepasan “upacara” pemberangkatan HS diatas tanggul lapindo.

Pagi sebelum berangkat, HS kembali menegaskan kepada saya bahwa; “Aku tak akan pulang mas, sebelum bisa bertemu dengan Presiden SBY, dan berhasil mendesak PT MLJ melunasi pembayaran korban lapindo, doakan ya mas”, ujarnya. Pagi itu terkumpul bantuan dari beberapa rekanku sebanyak Rp. 2 juta (dibagi dua utk HS dan HW). Sumbangan itu kami perkirakan setidaknya cukup untuk tiga pekan. Artinya selama tiga pekan itu, aku tak khawatirkan keduanya mengemis ngemis dijalan. Sumbangan itu bersifat bebas dan sukarela, tiada ikatan apapun, apalagi motif politik untuk menjatuhkan nama Abu Rizal Bakrie

Saat upacara pelepasan dilakukan, HS dan HW berpamitan dengan penuh haru dengan ibunda HS. HS sungkem didepan ibundanya, sambil di iringi suara adzan. Suasana begitu syahdu, semua terdiam, merinding, banyak dikalangan perempuan yang ada menitikan air mata. Pasca itu HS dan HW banyak mendapatkan saran, wejangan, dan suntikan semangat dari para pemuka masyarakat, agama dan sesama korban lapindo.

Aku dan seorang teman mengiringi HS jalan kaki dan HW yang naik motor dibelakang HS. Aku mengiringinya sambil ditemani seorang jurnalis kompas hingga ke pusat kota Surabaya. Selama perjalanan, anda semua mungkin mengikutinya melalui berbagai media massa. Mulai HS kena “teror” kecopetan, banyak dukungan warga masyarakat luas mulai dukungan menginap, makan, uang saku, rokok, pijat, pemeriksaan kesehatan, dll.

Seminggu lebih kemudian HS dan HW sampai Semarang. Sebelum sampai Semarang, HS dan HW meminta saya menyusulnya di Semarang, rasanya mereka kangen, dan butuh kedatanganku untuk menambah semangat. Aku menyusulnya ke Semarang. Di Semarang kami semua disambut oleh PMII IAIN WaliSongo Semarang. Bahkan sampai di Semarang, Pemprov Jatim mengutus dua stafnya untuk memberi sumbangan tanpa mengikat kepada HS dan HW sebesar Rp 2 juta.

Saat Tiba di Jakarta

Tanggal 7 Juli 2012, HS dan HW tiba di Jakarta. Sehari sebelumnya aku menyusul ke Jakarta untuk berkoordinasi dengan rekan rekan di Kontras, Walhi, Jatam, YLBHI, dan ILR untuk minta bantuan pendampingan selama di Jakarta, tempat menginap, dan support media. Tanggal 7 jam 12.00 WIB HS dan HW tiba di Tugu Proklamasi dan kami menyambutnya beramai ramai, bersama puluhan wartawan dari berbagai media massa. Bahkan Global TV sempat memberi kesempatan kepada HS dan HW untuk wawancara live dari depan Tugu Proklamasi. Sesudahnya, kami semua berkumpul di Kantor Kontras di Jalan Borobudur, Jakarta. HS dan HW sampai sore terus melayani awak media yang minta wawancara.

Hari itu juga, Adik HS bernama Bambang tiba di Jakarta dan bergabung dengan kami semua. Malam harinya Sri Bati, isteri HS juga tiba di Jakarta. Malam itu kami semua tidur di Mushola Kantor YLBHI. Hari kedua di Jakarta, HS telah berjibun mendapat undangan live di stasiun televisi. Pada Hari kedua di Jakarta HS live di Global Tv dan Sindo TV. Hari Ketiga live di Kompas TV, dan mendatangi Gedung DPR untuk ketemu Pimpinan DPR. Saat itu pimpinan DPR yang ada hanya Pramono Anung, maka HS dan HW ditemui Pramono Anung. Selain itu HS dan HW juga bertemu dengan jajaran Komisi V DPR. Komisi V mitra kerja BPLS di DPR. Kami ke DPR terlebih dahulu, karena mereka lebih mudah diakses ketimbang ke istana. Kami ke pimpinan DPR untuk fasilitasi bertemu dengan presiden. Sedangkan ke komisi V untuk mengadukan kelakukan PT MLJ.

Saat ke DPR tak ada setingan atau skenario dengan parpol tertentu. Semuanya berjalan alamiah. Tiada politisasi sebagaimana tuduhan boneka boneka lapindo. Semua usaha HS dan HW ke DPR hanya untuk mengadukan model pembayaran PT MLJ yang penuh tipu tipu. Seperti seringnya PT MLJ ingkari janji yang dibuatnya secara tertulis, pembayaran berdasar rekomendasi ketua ketua grup, bukan berdasarkan data base yang seharusnya dibayarkan oleh PT MLJ.

Pada Hari Keempat, kami mengadakan jumpa pers di Kantor Seknas Walhi, Jakarta. Jumpa pers ini untuk memberikan informasi secara komplit kepada media massa atas maksud dan tujuan HS ke Jakarta, dan informasi lain yang belum terberitakan, serta dukungan berbagai komponen civil society kepada perjuangan HS dan HW. Saat konpers itu juga HS menolak diwawancarai tivi one. Awalnya ia bersedia, tetapi pertanyaan tivi one mengarah bukan pada topik soal perjuangannya, mengarah ke hal hal lain yang lebih ke pribadi HS. Akhirnya wawancara dihentikan, apalagi, HS kecewa sebelumnya ada berita di tivi one yang menyiarkan bahwa HS bukan korban lapindo, dan hanya mencari sensasi saja.

Pada hari itu juga, beberapa ibu ibu dan seorang lelaki separuh baya, yang juga korban lapindo menyusul HS dan HW ke Jakarta. Mereka menyusul ke Jakarta juga atas permintaan HS sendiri. Ketiga ibu ibu itu adalah anggota Geppres yang tetap setia berjuang menuntut agar pembayaran 80 persen dibayar dengan tunai.

Pada hari Kelima di Jakarta, HS dan HW, aku dan beberapa rekan dari Jakarta, seperti Jatam menemani HS mengantarkan surat permohonan audiensi ke Presiden SBY. Karena dua hari sebelumnya Jubir Presiden menyatakan pintu istana terbuka untuk HS. Jubir Presiden juga menyatakan belum mengerti maksud kedatangan HS dan belum menerima suratnya secara resmi. Oleh karena itu, kami menindaklanjutinya dengan berkirim surat. Saat itu juga kami diikuti oleh belasan awak media massa. Saat itu wartawan tivi one juga akan wawancara ke HS, namun ditolaknya.

Pada hari keenam kami semua terlihat capek, dan saat itu juga weekend sehingga kantor kantor tutup. Kami menggunakannya untuk istirahat. Hari ketujuh, orang tua Sri Bati meninggal dunia, sehingga siang itu Sri Bati, dan HW pulang ke Sidoarjo. Hari itu juga, malam harinya saya pulang ke Surabaya. Kami berbagi peran dengan rekan rekan di Jakarta, agar saya tetap melanjutkan kerja kerja pendampingan di Porong dan HS disupport rekan rekan di Jakarta. Sebelum pulang, aku berpesan berkali kali ke HS agar tetap istiqomah (konsisten), jangan membuat kesalahan untuk kedua kalinya. Jaga niatmu dalam berjuang ini. HS pun menyatakan jangan khawatirkan soal itu mas. Meki tak lagi disisi HS, namun begitu, setiap hari aku berkomunikasi dengan HS.

Dua hari setelah saya ada di Porong, HS menghubungi saya akan aksi teatrikal di Wisma Bakrie. Pembaca juga dapat melihat sendiri melalui media massa ia juga aksi di Wisma Bakrie. HS juga saya minta untuk mengecek kembali proses suratnya di Istana. Aksi aksi HS itu mengundang petinggi PT MLJ turun tangan. Berdasarkan info yang saya dengar langsung dari HS, ADT Dirut PT MLJ menghubunginya mengajak bertemu.

“ADT mengajak bertemu aku mas. Gimana menurutmu mas?”, tanya HS. Aku jawab, solusi tiadak harus dari istana cak, bersyukur jika ADT mau memberikan jawaban kongkrit menyangkut aspirasi semua korban lapindo. Setujui saja bertemu dengan ADT dengan catatan ada beberapa prinsip yang tak boleh dilanggar, misalnya bukan untuk kepentingan pribadi dirimu cak”, jawabku. Selang sehari kemudian HS kembali menghubungi aku, Ia menyatakan pertemuan dengan ADT ia batalkan, sebab berdasarkan hubungan via telepon, ADT tidak bisa memberikan jalan keluar atas perjuangannya. “ADT hanya menjajikan pelunasan aset orang tuaku mas, bukan pelunasan korban lapindo, maka aku menolaknya”, ujar HS.

Seminggu sejak kepergianku dari Jakarta telah berlalu, Bahkan HW telah kembali menemani HS ke Jakarta. HW datang bersama seorang korban lapindo lainnya. Pagi itu, HW tiba di Jakarta. Mereka semua menginap di Kontras. Bahkan, sore hari sebelum HW datang, Isteri HS juga sudah tiba di Jakarta kembali bersama anak angkatnya yang masi balita. HS dan isteri dan anaknya kembali aksi jalan kaki mengelilingi istana dan menanyakan kembali suratnya. “tata usaha istana menyatakan suratnya sebaiknya diantarkan kedepan mas, bukan ke setneg”, ucap HS melalui telepon. “Oke kita turuti kemauan mereka cak, kita buat surat kembali kita masukkan lewat depan via pos kilat khusus. Sambil usahakan ke Cikeas langsung’, jawabku.

Rencana ini juga disetujui oleh HS. Sehari setelahnya, HS pamitan ke HW akan membelikan susu anaknya. Ia pergi bersama isterinya. Jelang magribh HW kontak saya bahwa HS akan ke tivi one. “Kok sampeyan tahu kalau HS akan ke tivi one cak”, tanyaku ke HW. “Ya mas aku diberitahu oleh kawan JTV” jawabnya. Saat itu juga aku kontak HS, namun tak sambung. Selang beberapa menit giliran HS yang menghubungi aku. “Sampeyan akan ke Tivi One yo cak?, tanyaku. Engga mas, jawabnya. Syukurlah kalau begitu. Kita fokus saja cak garap ke cikeas dan istana, setuju mas, jawabnya. Kontak ini adalah dua jam sebelum HS tampil di tivi one.

Saat itu, aku tengah akan berbuka puasa, karena kira kira pukul 20.00WIB. Sebab aku baru tiba dari perjalanan, sehingga makan buka puasaku terlambat. HW kembali menghubungi aku, “mas sampeyan lihat tivi one sekarang”, kata HW. Saat itu juga sambil makan aku melihat HS muncul di tivi one. Aku benar benar kaget. Aku punya dugaan tak baik ini kejadiannya. Makan ku hentikan sejenak. Kuamati kata demi kata yang keluar dari mulut HS. Bagaikan disambar petir disiang bolong saat HS mengucapkan terima kasih ke Bakrie, menyatakan tindakannya ada yang menyuruh, bukan keinginannya pribadi dan seterusnya.

Malam itu juga, pikiranku kalut. Ratusan twitter me mention aku, puluhan sms masuk ke hpku, dan puluhan komen dan postingan di grup fb dukung HS masuk, semuanya sama pertanyaannya: ada apa dengan HS, kok jadi begitu? Sampai uber socialku error karena begitu banyaknya mention yang masuk. “Kecewa dan malu” itulah yang aku rasakan. Namun beberapa teman segera menyarankan ke aku untuk segera rilis media, memberi penjelasan soal kejadian itu, supaya aku tidak dianggap menjadi bagian perilaku kotor HS. Saat itu juga aku kontak HW dan F para korban lapindo yang saat itu menemani HS di Jakarta namun ditinggal HS begitu saja. Menurut F, sehari sebelum live di tivi one, HS keceplosan omong ke F. F menyatakan kepadaku “HS dijanjikan tunjangan bulanan mas, katanya Rp 5 juta per bulan”. Sementara alasan korban lapindo tak mendukungnya itulah sebagai dalih ia meminta maaf ke Bakrie.

Sehari kemudian, rekan rekan media seperti, Koran Sindo, Surya, Tempo, Kompas mewawancarai aku soal ini. Dan semuanya sudah aku posting di twitter pribadiku. Semoga ini bisa memberi informasi yang cukup atas tragedi kotor HS. Saya pribadi minta maaf kepada semua rekan.

JADWAL KEGIATAN PERINGATAN HUT KE-67 PROKLAMASI KEMERDEKAAN RI

DI KABUPATEN PACITAN TINGKAT KABUPATEN TAHUN 2012

Sumber: Documentasi Humas Pemkab Pacitan

 

TANGGAL

WAKTU

ACARA / KEGIATAN

TEMPAT

12-13 Juli 2012

07.00

WIB

Turnamen Bola Volley Tim Penggerak

PKK antar Desa Kab. Pacitan

Aloon-aloon Pacitan

 

 

 

Turnamen Bola Volley Putra antar Desa Kab. Pacitan

Aloon-aloon Pacitan

2 September 2012

 

 

Festival Layang-layang Hias

Lapangan AURI Pacitan

14 & 15 Juli 2012

19.00

WIB

Lomba Catur

Gedung BHAYANGKARA

14 -15 Juli 2012

08.00

WIB

Turnamen Sepak Takraw

Pondok Pesantren Modern Al-Anwar Kelurahan Ploso

26 Agustus 2012

08.00

WIB

Kompetisi Surfing Pacitan 2012

Pantai Pancer Door

16 Juli 2012

07.00

WIB

Lomba Gerak Jalan SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA/SMK

Depan Kantor Bupati Pacitan

 

 

 

 

 

16-18 Juli 2012

08.00

WIB

Donor Darah

PMI Cabang Pacitan

17 Juli 2012

14.00

WIB

Lomba Sepeda Hias SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA/SMK

Depan Kantor Bupati Pacitan

18 Juli 2012

08.00

WIB

Lomba Qasidah Rebana Antar Sekolah SLTP, SLTA se Kab. Pacitan

Halaman Kantor Kementerian Agama

18 Juli 2012

14.00

WIB

Festival Drumb Band SD/MI, SMP/MTs

Depan Kantor Bupati Pacitan

23 Juli 2012

 

 

Pengurangan Biaya / Jasa Medis untk Pasien Anak pada Pelayanan Bidan dan Dokter Praktek Swasta

 

05 – 10 Agustus 2012

 

 

Pameran

Aloon-aloon Pacitan

13, 14, 15 Agustus 2012

21.00

WIB

Rontek Gugah Sahur

Depan Kantor Bupati Pacitan

23 Agustus 2012

19.00

WIB

Gelar Wayang Kulit Dalang Anom Suroto

Aloon-aloon Pacitan

24 Agustus 2012

19.00

WIB

Gelar Tari dan Parade Band Remaja

Aloon-aloon Pacitan

25 Agustus 2012

13.00

WIB

Pacitan Carnival (Mobil Hias)

Start Aloon-aloon Pacitan

25 Agustus 2012

19.00

WIB

Teater Tradisional dan Campursari

Aloon-aloon Pacitan

26 Agustus 2012

19.00

WIB

Gelar Dangdut

Aloon-aloon Pacitan

25 – 31 Agustus 2012

19.00

WIB

Pertandingan Bulu Tangkis

Gedung Gasibu

30 Agustus 2012

14.00

WIB

Panjat Pinang

Aloon-aloon Pacitan

1 – 2 September 2012

07.00

WIB

Pertandingan Tennis Meja

Gedung Gasibu

1-12 September 2012

07.00

WIB

Turnamen Tennis Lapangan

Lapangan Tennis Pemda

1 – 20 September 2012

15.00

WIB

Turnamen Sepak Bola antar Desa se Kec. Kota

Stadion Pacitan

07 September 2012

06.00

WIB

Senam / Jalan Sehat

Start/ finish Aloon-aloon Pacitan

09 September 2012

06.00

WIB

Sepeda Sehat (FORMI)

Start/ finish Aloon-aloon Pacitan

Minggu lalu kita dikejutkan dengan khabar beredarnya sebuah gambar seorang perempuan tanpa pakaian yang kemudian di-tag (ditandai) ke sebuah akun facebook milik instansi pemerintah daerah Kabupaten Pacitan. Kemudian berkembang isu bahwa foto tersebut mirip dengan salah satu staff pemerintah daerah. Berikutnya instansi pemerintah yang bersangkutan bereaksi cepat dengan menutup akun facebook tersebut dan mengeluarkan pernyataan singkat mengenai penutupan akun tersebut.

Menurut khabar beberapa waktu sebelumnya perempuan yang mirip dalam gambar tersebut telah kehilangan telepon genggamnya. Kejadian kehilangan ini telah dilaporkan ke pihak kepolisian. Kemudian selang beberapa saat terjadilah kasus diunggahnya gambar-gambar tersebut. Dugaan sementara adalah seseorang yang menemukan telepon genggam tersebut kemudian membuat akun palsu atas nama Perempuan tersebut kemudian mengunggah gambar-gambar tersebut. Kini kasusnya sedang diselidiki oleh kepolisian menyusul laporan oleh perempuan tersebut ke pihak kepolisian mengenai diunggahnya gambar-gambar tersebut.

Kejadian seperti ini sudah berulangkali terjadi di tempat-tempat lain di Indonesia. Kasus yang paling heboh dan berujung di pengadilan tentu saja kasus video Ariel Peter Pan. Juga di Pacitan sendiri ada beberapa kejadian sebelumnya meski dengan modus dan motivasi yang berbeda. Akan tetapi terdapat beberapa kesamaan, dimana umumnya pelaku pengunggah gambar-gambar tersebut adalah pihak lain, Tidak pernah ditemukan pelaku pengunggah gambar porno adalah orang yang sama dengan yang ada di dalam foto bugil/porno tersebut. Umumnya korban merasa kecolongan karena menganggap bahwa foto-foto tersebut untuk tujuan koleksi pribadi dan tidak dimaksudkan untuk disebarluaskan.

Dalam posisi seperti ini kita dapat memahami posisi orang tersebut sebagai korban akan tetapi ada satu hal yang sangat penting sekali untuk diperhatikan oleh semua orang: JANGAN BUGIL DI DEPAN KAMERA. Apapun tujuan anda untuk membuat gambar-gambar tersebut, ataupun seberapapun ketat anda menjaga file-file tersebut, tidak ada jaminan bahwa gambar-gambar tersebut tidak akan menyebar kemana-mana di abad informasi ini.  Terlebih apabila sudah masuk di dunia maya (internet) jangan harap bisa dengan mudah untuk diambil kembali ataupun dihilangkan.

Di jaman dimana orang ramai-ramai mengemukakan ide tentang strategi pemasaran, strategi meningkatkan keuntungan, tips-tips memotivasi diri dan tetek bengek semacamnya dimana ujung-ujungnya adalah bagaimana mengumpulkan sebesar-besar keuntungan dengan modal sekecil-kecilnya, maka tulisan yang bercerita tentang hal yang seratus delapan puluh derajat bertolak belakang dengan arus besar (mainstream) tentu bukanlah pilihan yang mudah. Tetapi itulah pilihan yang dijatuhkan oleh Arin Swandari, salah satu anak muda pacitan berbakat. Arin menulis dari sudut pandang yang berbeda dari umumnya; konsumen. Dalam bukunya, Melawan Penjual dia memaparkan tips dan trik melawan iklan massif yang menurut Emha Ainun Najib bahkan disebut sebagai manifestasi dari Da’jal. Alih-alih sebagai kampanye marketing, buku ini justru membawa kita lebih jauh lagi pada pertanyaan mendasar yang menarik untuk kita renungkan bersama seputar budaya konsumerisme: Apakah kita memang memerlukan barang-barang itu? Apakah kita ditakdirkan sebagai konsumen dari mulai kita lahir sampai dengan mati nanti? Apakah kita kerja membanting tulang siang dan malam hanya untuk mengumpulkan uang dan kemudian kita habiskan membeli barang-barang? Apakah kerja itu merupakan kebutuhan manusia ataukah kita dipaksa bekerja agar dapat belanja? Tentu pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak akan dijumpai secara tertulis dalam buku ini, akan tetapi berkembang dalam pikiran sesuai dengan kreativitas dan pengalaman individu masing-masing.

Arin pun saya kira tidak sedang dalam ambisi untuk menjawab semua pertanyaan-pertanyaan tersebut, buku ini lebih tepat untuk dibilang sebagai pemantik menuju kesadaran posisi kita sebagai konsumen. Kesadaran manusia tentang bahaya konsumerisme itu telah melahirkan banyak gagasan perlawanan mulai dari gerakan penyadaran konsumen sampai dengan anti konsumerisme semacam aksi Buy Nothing Day (Hari Tanpa Belanja) ataupun D.I.Y (Do It by Yourself) yang lekat dengan tradisi komunitas punk dan gerakan-gerakan kontra kultur lainnya. Bahkan di beberapa Negara pemikiran ini berkembang secara ekstrim menjadi gerakan primitivism dimana mereka menolak tehnologi yang dianggap sebagai biang keladi kerusakan bumi. Beberapa yang lain berkembang ke arah pada apa yang mereka sebut dengan gerakan Ethical Consumerism, konsumen etis yang tidak akan membeli barang-barang yang dihasilkan oleh produsen yang memperlakukan buruhnya semena-mena, produsen yang merusak lingkungan, mempekerjakan anak-anak, melecehkan perempuan dan seterusnya. Tentu buku ini tidak juga hendak mengajak kita untuk melakukan boikot menjadi konsumen, tetapi buku ini lebih banyak mengajak kita untuk menjadi pembeli (konsumen) yang kritis, konsumen yang berdaya yang tidak melulu terbuai oleh iklan bombastis di berbagai media yang diam-diam telah mencuci otak kita. Akan menjadi menarik apabila Arin nanti menulis seri lanjutan mengenai bagaimana kerja iklan yang mampu menghipnotis manusia menjadi zombie-zombie yang menjalani siklus rutin kerja, belanja dan kemudian mati.

Selamat menulis buku selanjutnya untuk  Arin Swandari!

(Catatan: Arin Swandari adalah jurnalis sebuah kantor berita dan juga alumni SMA Negeri 1 Pacitan)

Sinopsis Buku: Melawan Penjual *)

Menjadi pembeli adalah takdir manusia, seberapa pun uang yang dimilikinya atau tidak punya uang sekalipun. Para ibu hanya menjalankan takdir itu ketika berbelanja keperluan bayi yang akan dilahirkan.

Takdir selanjutnya menjadi pembeli dilakoni si bayi hingga tua, seumur hidup, maaf bahkan sampai mati. Pembelian terakhir kita mungkin kain kafan dan peti mati (tentu saja orang lain yang membelikannya, seperti ibu yang membelikan kita popok selagi kita masih di gembolannya).

Takdir menjadi pembeli tak selalu diikuti takdir menjadi penjual. Sebagian memang iya, menjadi penjual sekaligus pembeli. Sebagian adalah pembeli saja.

Pada sebuah keluarga, akan lebih banyak anggota yang berperan menjadi pembeli ketimbang penjual. Istri atau suami yang bekerja, akan menjalankan takdirnya menjadi penjual sekaligus pembeli. Lainnya adalah pembeli tulen.

Anak-anak akan menjadi pembeli tulen, sampai ia bekerja.Istri yang mengandalkan gaji suami juga menjadi pembeli saja, begitu juga suami yang dihidupi istri.

Tetu, bukan nama saya. Tapi saya memutuskan memakainya, khusus dalam buku ini, dengan alasan yang sedikit mengada-ada.

Ibu saya, yang orang Jawa menegur suatu ketika “Nek arep tetukon, mbok dipikir dhisik.” Kalau mau membeli mbok dipikir dulu. Jadi saya asal menyomot Tetu, dari teguran itu sebagai penokohan saya, tidak peduli nyambung atau tidak. Teguran itu yang membuat saya menulis buku ini, dan potongan kata itu yang menurut saya paling paling cocok dicomot dijadikan nama.

Tetu selesai membaca buku ketiga tentang penjualan. Semakin banyak informasi tentang trik promosi dan strategi pemasaran, semakin Tetu penasaran bagaimana nasibnya sebagai pembeli. Dan kalau dipikir-pikir, konsumen juga punya andil besar membuat kesalahan dalam pembelian. Dalam buku ini Tetu mencoba mengajak Anda untuk mengingatnya, berfikir sejenak, agar bisa memperbaikinya dan bersikap rasional menghadapi penjual, yang sudah muncul sejak kita membuka mata di pagi buta.

Kalau Anda sering tergoda diskon, bolehlah sekali-sekali mengambil napas lalu membuat hitungan sederhana, supaya yakin bahwa tawaran diskon bukan tipuan semata. Dan jika dirugikan, silakan memilih salah satu jalur komplain.

Kalau Anda “gemas” dengan sales kartu kredit atau sales asuransi yang kerap ngotot, tenang… Anda punya banyak teman. Tip-tip mereka dibagi di sini. Barangkali, ini saatnya bagi Anda menggunting kartu kredit dan menyisakan 1 atau 2 saja, seperti sahabat Tetu, Frau, raja penghambur. Sebaliknya, mulailah memikirkan bagaimana mengalokasikan dana untuk membeli penghiburan. Bagaimana kalau 10% dari gaji?

Menjadi ratu atau raja belanja? Hmm tentu boleh. Tapi, sebaik-baiknya ratu atau raja adalah raja atau ratu yang bijaksana, bukan?

Buku ini dikemas dalam bentuk cerita-cerita ringan, dan mungkin sebagian cerita keseharian Anda. Untuk para penjual, bukankah perlu mengetahui juga kegalauan para pembeli? Selamat membaca…

*) Sinopsis diambil dari SINI